♥●•٠·˙ Khayrunnisa' Ash-shalihah ˙·٠•●♥...

,,,^_^,,, Selamat menikmati ,,,^_^,,,

Tampilkan postingan dengan label Cerita Penuh Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Penuh Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juni 2017

Tetaplah Terbang Sejauh Yang Alloh Mau.

Bismillah

Ku kenal dia awal kuliah, butuh waktu beberapa minggu kuliah sampai akhirnya kami ketemu secara nyata. Hari itu aku lupa hari apa yang ku ingat hanya tahunnya, 2011.

Dengan setelan kemeja, celana jins yang tidak begitu ketat, jilbab tipis dan kacamata, dia berjalan kearahku yang sedang menunggu didepan gedung ekonomi salah satu Universitas Swasta di Medan.

"Nisa ya ??" sapanya begitu ramah.
"Iya" jawabku waktu itu.
"Aih nis kenapa baru sekarang si ketemunya" sapanya sangat ramah dan ceria.

Namanya asti (bukan nama sebenarnya), dia sangat ramah, ceria dan selalu semangat. Itu yang aku tangkap dari pertama kali aku mengobrol dengannya.

Asti memang seorang gadis yang supel, mudah bergaul. Itu bisa dibuktikan dari banyaknya temen yang selalu berada di sampingnya baik itu perempuan maupun laki-laki.

Setelah pertemuan itu tidak ada yang signifikan terjadi. Karena kami beda kelas, jarang ketemu dikampus. Alasan yang paling dominan aku tidak begitu tertarik dengannya. Kala itu adalah akhir 2010 aku mengenal kata hidayah, 2011 aku masuk kuliah, harapan-harapan untuk menemukan temen yang akhowat sangat besar. Untuk itulah aku tidak begitu ingin dekat asti karena emang dia bukan akhowat, gaya berpakaiannya juga terkesan seperti laki-laki, kemeja, celana jins. Tapi kalau ketemu, asti selalu menyapa dengan ramahnya.

Terlebih pada saat itu asti aktif di organisasi IMM, organisasi internal kampus. Itu yang lebih-lebih membuat aku males untuk ngedeketi karena emang juga aku gak respek dengan organisasi itu. Organisasi islam dengan latar belakang Muhammadiyah tapi didalamnya aduh. Perempuan laki-laki saling deket-deketan, gitar-gitaran. Itu yang buat aku juga males deketi asti.

Belakangan aku tau bahwa asti tidak di IMM lagi dan ke HTI. Waktu itu kami satu kelas. Asti banyak bertanya tentang HTI menurut ku, aku hanya jawab semampu yang aku bisa. Dan lagi-lagi aku tidak respek juga untuk menarik asti keluar dari organisasi itu. Karena pada saat itu aku sudah menjelaskan sedikit "keganjalan" HT tapi ternyata asti malah bertahan disana bahkan asti pernah minjem gamisku untuk acara dauroh HT dan asti bermain gitar disana. Dalam hati aku cuma ngucap "kajian islam apa itu" tapi tidak melarangnya.

Waktu berjalan begitu cepat. Antara aku dan asti hanya sekedar temen saling tau wajah dan nama saja, tidak lebih dari itu. Pembahasan kami juga tidak jauh hanya seputaran tugas-tugas kuliah.
Akhirnya asti lulus kuliah duluan ketimbang nisa. Asti deket dengan sahabat nisa yang bernama rara (bukan nama sebenarnya). Pada waktu itu ada acara tasyakuran wisuda dirumah asti dan nisa diajak rara buat kesana. Itulah pertama kali nisa kerumah asti.

Kedua kalinya nisa kerumah asti ketika itu barengan lagi dengan rara. Kita bertiga kumpul dirumah asti, dikamar asti lebih tepatnya. Kamar yang lumayan besar, tempat tidurnya empuk, kamar mandinya ada didalam kamar dan yang paling penting kamar itu berAC. Benar-benar kamar yang nyaman !! Dikamar itu ada 1 buah televisi yang mana setiap tivi itu hidup selalu dimatikan sama rara. Dan disana ada 1 buah gitar berdiri kokoh. Ternyata nisa ketahui asti memang sangat mencintai gitar itu. Mungkin mau jadi musisi ya !!

Beberapa tahun terlewati setelah hari itu, antara aku dan asti tidak pernah lagi bertemu. Hanya aplikasi bbm yang menghubungkan kita.
Hari itu, asti tiba-tiba ngechat nisa bertanya tentang "Salafy". Asti tanya semuanya, dia bilang ingin belajar agama yang bener. Disitu rasanya nisa senang banget. Begitulah hidayah Alloh, hanya Dia yang bisa menentukan siapa saja yang bisa menerima hidayah itu.
Sebisa mungkin nisa pandu asti untuk mempelajari al-haq, dari mulai nisa suruh pake telegram dan joint di channel-channel salafy. Dari situ kita semakin dekat dan intens komunikasinya.

Sampai suatu hari asti tanya "bagaimana hukum minum obat dari orang yang seperti dukun?" asti cerita itu obat untuknya. Aku yang penasaran menanyakan "asti sakit apa ?"
Asti awalnya bilang "bukan penyakit menular nis, hanya saja ketika itu kambuh sangat mengerikan, asti bisa kejang-kejang dan satu rumah bakal dibuat repot banget karenanya"
Nisa semakin penasaran dan menanyakan kembali "sakit apa"
Asti akhirnya mengatakan "nisa tau epilepsi ? Kalau belum nisa searching aja"
Aku pun mencari tau apa itu epilepsi dan deg. Seperti disambar petir disiang yang sangat cerah. Berulang-ulang aku tanya apakah itu benar ? Beneran ? Gak bohong ? Karena sulit sekali mempercayainya.
Asti yang aku kenal sangat ceria, ramah, mudah bergaul, energik, semangat, ternyata memiliki riwayat penyakit tersebut.
Berulang-ulang aku tanya kepada asti mengenai penyakitnya dan dia selalu jawab "benar, asti memang punya penyakit itu"

Berulang-ulang nisa menanyakan apakah ini benar, tidak bercanda kan. Karena seketika nisa langsung ingat keceriaan-keceriaan yang disebabkan oleh asti, sangat susah dipercaya.
Nisa tanya "apakah semua teman-teman tau ?" asti jawab "tidak nisa, hanya beberapa orang saja yang tau, sekitar 5 orang saja yang tau temen-temen asti".
Nisa tanya pernah kambuh gak ? Asti jawab beberapa waktu lalu ketika asti dan keluarga liburan, dia kambuh dan akhirnya asti hanya berdiam dikamar.

Terus nisa tanya "itu minum obat ? Banyak obatnya ?"
Asti jawab "iya ada obatnya. Obatnya cuma satu nis tapi harus diminum rutin karena setelah 2 tahun meminum obat itu dosis akan berkurang, tapi kalau sehari saja asti gak minum obat itu. Asti harus ngulang dari awal lagi untuk mencapai waktu 2 tahun. Makanya asti selalu marah ngeliat orang yang baru sakit demam atau pusing saja sudah buat status 'banyaknya ini obat' atau 'capek kali minum obat ini'. Mereka gak ngerasai jadi asti yang harus menelan pil itu setiap hari tanpa boleh bolong sedikit pun"
Ya Alloh. Disitu nisa belajar lagi arti kata bersyukur, ikhlas dan jangan mengeluh. Dan disitu nisa tau asti ternyata sekuat itu !!

Perkataan yang selalu nisa ingat kala itu adalah "epilepsi itu penyakit yang bahkan untuk disembuhkan juga gak mungkin, belum ada yang sembuh. Maka dari itu asti takut, dalam keadaan diri tidak mengenal islam secara sempurna, tiba-tiba kematian itu datang. Apa yang harus asti pertanggungjawabkan disana kelak ? Sementara umur selalu berjalan kearah sana kan nis ? Asti mau belajar agama islam yang benar, sebenar-benarnya islam".

Dan ternyata ucapan terakhirnya itu bukan hanya kalimat semata. Asti sangat bersemangat. Setelah hari mengejutkan itu. Asti sangat rajin belajar. Dia mulai membeli buku-buku sunnah dari penerbit terpercaya dan mulai mematikan tivinya dan tidak pernah ia hidupkan lagi bahkan sampai sekarang. Gitar yang dulu adalah barang kesayangannya sekarang jangankan memainkannya, melihatnya saja dia sudah ingin membuangnya. Mengenai foto-foto yang menghiasi dinding rumah nya pun sudah membuat ia risih dan ingin sekali menurunkannya dan menyimpannya digudang atau membakarnya, namun tidak semudah itu karena keluarga asti adalah orang-orang yang awwam. Perlu waktu yang banyak untuk menjelaskannya.

"Duh deg deg an ni hari jum'at perdana kekampus pakai gamis" itulah pesan WA nya waktu itu. Oia asti ini melanjutkan studynya sekarang sepertinya sudah semester-semester akhir.

Nisa tetap memberikan semangat dan tips-tips agar tidak malu pakai gamis salah satunya nisa bilang aja pakai yang warna warni dulu jangan langsung yang hitam-hitam karena ini kan perdana, nanti setelah mata mereka terbiasa dengan asti yang bergamis, mereka tidak akan begitu peduli lagi mengenai warna apa yang asti kenakan. Memakai gamis juga penuh perjuangan bagi asti, cibiran dan perkataan keras dari keluarga juga ia dapatkan. Jalan menuju Jannah itu tidak mudah kan ?? Maka tetaplah semangat dan berpegang teguh.

Waktu itu hari minggu dibulan April, akhirnya kita ketemu setelah beberapa tahun tidak ketemu. Kita bertemu di Taman-taman syurga, yaa Majelis taklim adalah taman-taman syurga. Itu hari pertama nisa ketemu asti dengan "wajah" yang baru. Kalau dulu dengan celana jins nya, sekarang sudah dengan gamis dan jilbab lebarnya. Maa syaa Alloh.

Setelah taklim itu, asti semakin bersemangat dalam menuntut ilmu bahkan ia bilang bahwa ingin memanjangkan jilbabnya lagi agar mudah dipakai untuk sholat tanpa mukena. Jalan menuntut ilmu juga tidak berjalan mulus. Asti sempat dilarang orang tuanya untuknya taklim dan papanya mengancam kalau ia tetap taklim papanya akan mengobrak-abrik tempat taklim tersebut. Takutlah asti karena ia sangat tau tipikal papanya. Akhirnya dia bilang ke nisa untuk sementara tidak bisa taklim lagi. Qadarullah taklim emang diberhentikan dibulan selanjutnya karena memasuki bulan Romadhon. Dan nisa katakan asti punya waktu sekian bulan untuk mengambil hati orang tuanya. Kita selalu berdoa agar selalu dimudahkan jalannya untuk menuntut ilmu.

"Nis, asti malu kali lah kalau keluar rumah itu kelihatan wajah, serasa kayak orang telanjang nis, gak nyaman. Karena selama asti memakai gamis ini semua orang kayak ngelihatin asti. Asti ngerasa malu memperlihatkan wajah ini". Deg kata-kata ini berhasil menampar dan mencabik hatiku seketika. Bayangkan saja. Nisa yang sudah lama memakai setelan gamis jilbab panjang belum berani sekuat itu dalam berpikir. Tapi asti, yang baru beberapa bulan saja sudah berani ingin mengambil keputusan untuk menutup wajahnya.

Beberapa belakangan ini asti selalu curhat bahwa ia ingin segera bercadar, terserah mau bagaimana tanggapan orang tua dan keluarganya. Asti sudah tidak tahan untuk menjalankan kewajiban yang satu ini. Dan lagi-lagi nisa cuma bisa cemburu beserta malu karena tidak punya kekuatan sebesar ini untuk hal yang satu ini.
Setelah ngobrol dengan mamanya, meluluhlah hati mama dan mengizinkan asti bercadar tapi ketika taklim saja dan mama nya juga setuju kalau asti berhenti kuliah saja. Tapi itu hanya keputusan dari mamanya, belum ke papa.

Terakhir asti cerita ke nisa bahwa ia sangat sedih, pengen nangis, teriak karena asti ngerasa kok keluarganya begitu banget sama dia. Setelah nisa tanya kenapa ternyata jawabannya adalah papanya tidak setuju kalau asti memakai cadar. Papa bilang kalau mau memakainya setelah menikah saja.
Nisa bilang "bagus donk, itu berarti orang tua sudah setuju kalau suatu saat asti bercadar walau setelah menikah"
Tapi jawaban asti lagi-lagi menohok sampai ke ulu hati.

"Kalau waktunya gak sampai gimana nis "? Katanya
Nisa hanya jawab " Alloh Maha Tahu bahkan lebih dari kita, kok bisa ngomong gitu ?"
Asti jawab "asti ngerasa waktu semakin dekat, asti takut tidak sampai waktu untuk menjalankan perintah itu"
Nisa gemetar membaca kata-kata itu. Bukan hanya waktu bagi asti, waktu untuk nisa juga hanya Alloh yang tahu kan. Juga waktu untuk kita semua.
"Asti ngerasa sangat tertekan bahkan didalam rumah asti sendiri, tidak pernah asti ngerasa setertekan ini sebelumnya nisa".
Nisa hanya bisa jawab "tidaklah dikatakan beriman sebelum kita diuji".

Na'am. Tidaklah kita dikatakan beriman sebelum kita diuji. Ujian setiap orang berbeda-beda. Tapi satu hal yang harus asti tahu bahwa semua muslimah yang akan mulai hijroh dengan kondisi orang tua dan lingkungan awwam pun akan mengalami hal yang sama dengan apa yang asti dapatkan saat ini. Bahkan banyak yang lebih parah dari kita, ada yang baju-bajunya dibakar bahkan sampai diusir dari rumah dan tidak dianggap anak lagi.

Contoh terbesar bagi kita yang sedang hijroh dan diuji dengan ujian-ujiannya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam dan para Sahabatnya. merekalah orang-orang dengan ujian terdahsyatnya yang kisahnya sangat melekat dihati kita. Tidakkah kisah mereka mampu mengembalikan semangat kita untuk terus hijrah dan berda diatas al-haq ??

Ukhti asti yang nisa sayangi karena Alloh.
Jujur saja, sekarang nisa sangat menyayangi anti karena kita berada dizona yang sama. Salafiyyah.
Selalu ada do'a untuk anti, semua yang terbaik untuk anti semoga selalu bersama.
Nisa nasehatkan kepada asti jangan mudah sedih karena kalau kita sedih, futur akan segera menyambar dengan begitu cepatnya.
Tetaplah bersabar dan ikhlas atas apa yang terjadi dan yang akan terjadi.
Bersabarlah sedikit lagi dalam menghadapi orang tua dan lingkungan anti. Bersabarlah sedikit lagi. Alloh akan selalu mudahkan HambaNya yang taat. Bukankah anti pernah bilang "tidak mungkin asti sekuat ini kalau bukan kekuatan dari Alloh".
Jangan pernah memikirkan hal-hal yang akan membuat asti sedih, seperti kemarin asti memikirkan perkara jodoh. Asti takut kalau jodoh asti nanti bakal kecewa mendapati asti yang punya penyakit istimewa ini. Jangan pernah risau untuk hal-hal yang sudah ditetapkan Alloh. Jodoh sudah ketentuan Alloh. Jangan terlalu ambil pusing yang penting asti tetap belajar untuk menjadi sebaik-baik perhiasan.

Nisa selalu ingat mengenai hadist ini :

Diriwayatkan oleh ‘atha’ bin Abi Rabah, dia berkata: “Telah berkata kepadaku Abdullah bin Abbas: “maukah engkau aku perlihat seorang wanita penghuni surga?” maka aku berkata : “tentu!”. Kemudian ‘Abdullah berkata: “Wanita hitam dia pernah mendatangi Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “ aku kena penyakit ‘usro’u (ayan/epilepsy), jikalau penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka do’akanlah kepada Allah agar sembuh penyakitku”. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “jikalau aku do’akan kepada Allah, pasti kamu akan sembuh. Akan tetapi jikalau kamu sabar maka bagimu surga”. Maka wanita hitam itu berkata: “Ashbiru (aku akan sabar), akan tetapi do’akan kepada Allah agar tiap kali kambuh penyakitku, auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendo’akannya sehingga tiap kali kambuh, Allah Ta’ala menjaga auratnya.

Bukan kah asti pernah mengatakan setiap membaca hadist itu berasa lagi ngobrol sama Rasulullah kan ?

Tetap belajar dan tetaplah menjadi sosok yang nisa kenal diawal perkenalan kita, ceria, ramah, semangat.

Ukhti asti, tetaplah terbang sejauh yang Alloh mau sampai Alloh menentukan kehidupan kita selanjutnya.

Nisa uhibbukifillah ya asti.

Khayrunnisa' ash-shalihah, 19 Juni 2017

Senin, 28 Januari 2013

# PEMABUK YANG MENJADI IMAM #

# PEMABUK YANG MENJADI IMAM #


Subhanallah!

Ada dua pemuda penduduk asli Madinah al-Munawarah. Keduanya tamasya ke Turki untuk mengisi liburan mereka, dengan bersenang-senang dan menenggak khamr. Ketika telah sampai Istambul, keduanya membeli khamr secara sembunyi-sembunyi, lalu menaiki taxi menuju daerah Riifah dan tinggal di sebuah hotel. Pada saat chek in, resepsionis bertanya asal negera mereka. Salah satu dari keduanya menjawab, “dari Madinah.”

Terlihat binar bahagia resepsionis mendngar asal kedua pemuda itu. Disiapkan untuk keduanya paviliyun dengan harga kamar biasa, demi memuliakan tamu yang berasal dari kota Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

Alangkah gembiranya keduanya menerima penghormatan itu. Mereka melalui malamnya dengan menenggak khamr. Satu dari keduanya mabuk, sedangkan satunya lagi setengah mabuk hingga mereka tidur.

Tiba-tiba, ada seseorang mengetuk pintu depan. Salah seorang dari keduanya bangun membuka pintu dengan setengah sadar karena kantuk. Ternyata ada pelayan hotel yg kemudian berkata, “Permisi, Imam masjid kami menangguhkan shalat Shubuh begitu mendengar ada tamu dari Madinah yang menginap di sini, maka kami menunggu Anda berdua di masjid bawah.”

Seperti tersambar petir ia mendengarnya. Buru-buru ia membangunkan temannya dan bertanya, “Kamu punya hafalan al-Qur’an nggak?” Ia menjawab, “Ada, tapi tidak mungkin saya berdiri sebagai imam.”

Keduanya berpikir keras utk keluar dari ‘masalah’ tersebut. Blm lagi jalan keluar ditemukan, kembali pelayan hotel mengetuk pintu, “Mohon sedikit dipercepat, kami sudah menunggu Anda di masjid bawah, takut kesiangan.” Buru-buru keduanya mandi dan ‘terpaksa’ turun ke masjid. Ternyata masjid penuh seperti layaknya shalat Jumat. Para jama’ah menyalami keduanya seperti layaknya khalayak menyambut seorg ulama.

Salah satu dari keduanya maju menjadi imam. Iapun berusaha mantapkan hati dan bertakbir. Dan tatkala ia mulai membaca...”alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin..”

Tiba-tiba menangislah jamaah masjid merasa seakan shalat di masjid Nabawi, karena imamnya berasal dari Madinah. Imam pun terbawa suasana hingga turut menangis sebagaimana makmumnya. Tak ada surat lain yang dibaca selain surat al-Ikhlas di sholat itu. Usai shalat, orang-orang mndekati imam shalat seakan ingin mengenal lebih dekat dan menyalaminya. itulah awal hidayah menyapa dua pemuda peminum khamr itu.

Kini keduanya menjadi da’i di jalan ALLAH, Allahu Akbar...walillahil hamd..

#Ada kalanya Allah mengkondisikan dirimu dengan suatu ‘masalah’ dan ‘kesulitan’, tapi bisa jadi itu adalah cara Allah memperbaiki dirimu.

dari foto Abu Umar Abdillah via Hasna Afifah Al Aqeelah

Sumber : Langkah Menuju Kebaikan

Semoga Bermanfaat

Khayrunnisa' Ash-shalihah

Sabtu, 26 Januari 2013

Merpati Tak Lagi Terbang


Kukenal dia 2 tahun lalu tepatnya ketika aku masih aktif dikampus menjalankan kegiatanku sebagai mahasiswi jurusan tarbiyah semester akhir.

Tak banyak orang yang mengenalnya karena dia hanyalah mahasiswi biasa yang datang kuliah hanya untuk belajar setelah jam kuliahnya selesai dia sudah tak terlihat di dikampus

Tapi, ada yang menarik hatiku untuk mengenalnya lebih dekat, daya tarik dirinya membuatku ingin mencari tau siapa dia sebenarnya, beberapa kali aku melihatnya begitu tergesa-gesa menuju  mesjid ketika adzan dikumandangkan, sungguh suatu pemandangan yang hampir tidak pernah aku lihat selama aku kuliah ditempat ini

Kucoba bertanya kebiro kemahasiswaan untuk lebih mengorek informasi tentang dirinya minimal namanya dan tempat tinggalnya mungkin.

Dan ternyata namanya adalah Zahra, “Zahra Nabilah nama panjangnya” sebut pak Reno, staff biro kemahasiswaan di kampus yang sangat ku kenal dekat dan ini yang membuat aku mudah mengetahui identitas semua mahasiswa yang ingin ku kenal dan salah satunya adalah Zahra,

***

Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah tapi tetap saja kulangkahkan kakiku menuju kampus, berharap ada sesuatu yang kudapat di kampus, walaupun hanya gratisan Wifi saja. Sekitar 1 Jam aku terlarut di dunia maya mencari bahan untuk pengajuan judulku, tiba-tiba kulihat wanita berjilbab hitam duduk di sebelah kursi ku sambil mengotak-atik handphonenya, jantungku berdegup kencang, ternyata perempuan berjilbab hitam itu adalah zahra, kuputar otakku mencari cara agar aku bisa berkenalan dengannya, walau aku seniornya tapi tetap saja aku gemetar ketika ingin melakukan sebuah pembicaraan kepada orang yang belum aku kenal sebelumnya.

Kucopot jam yang melingkar di pergelangan tanganku dan kumasukkan kedalam tas, ku geser sedikit posisi dudukku sehingga aku lebih dekat dengannya

“ Maaf mbak, jam berapa yah ?? “ tanyaku kepadanya

“ Jam 12.05 mbak “ Jawabnya sambil melihat kearah jam tangannya

“Oh, makasih yah mbak” jawabku

Kami saling terdiam, dan kulihat dia sibuk dengan handphone di tangannya

“Semester berapa mbak?” tanyaku membuka pembicaraan

“Semester 4” jawabnya

“Oh, lagi nunggu teman nya yah ?” tanyaku lagi

“Enggak mbak, saya nunggu waktu Dzuhur ko” jawabnya sambil senyum

“oia, kita belum kenalan, nama saya nisa” Ucapku sambil mengulurkan tangan di tambah dengan senyum terindah yang kumiliki

“saya Zahra” jawabnya sambil mengulurkan tangannya

“saya semester Akhir” celetukku mencairkan suasana

Dia hanya tersenyum sambil berkata “berarti saya manggilnya kak nisa”

Aku tertawa sambil bercanda dengannya, begitulah awal kedekatan kami bermula

AllahuAkbar AllahuAkbar....
Tak terasa adzan mesjid kampus berkumandang, kami membereskan semua barang-barang kami dan menuju mesjid untuk melakukan shalat.

Selesai shalat kulihat zahra mengeluarkan botol berwarna putih dan botol minuman dari dalam tasnya. Aku mendekatinya seraya bertanya “itu apa Zah ??

“Ini vitaminku kak, soalnya hari ini sepertinya saya akan pulang sore, penambah stamina” jawabnya sambil memasukkan butiran-butiran pil itu kedalam mulutnya

“Ohh, “ aku hanya tersenyum

***

Kuhempaskan badanku kekasur sambil memandangi burung-burung kertas bergelantungan di langit-langit kamarku, tidak tau apa yang kupikirkan tiba-tiba aku teringat akan Zahra, aku teringat butiran-butiran pil masuk kemulutnya, “Masa’ Vitamin sebanyak itu” desahku dalam hati
“Ya ampunn, aku lupa minta nomor hapenyaa” Aku berbicara sendiri
Aku berharap bertemu dengannya besok di kampus

***

“Ukhty, besok kajian di rumah ukhty lia yah??” ucap salah satu akhwat kepadaku
“Iyah ukh, insya Allah besok ana datang yah” jawabku
“oke deh, ana duluan yah ukh, udah telat nii” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya kepadaku
“Iyah, hati-hati yah” jawabku

Aku berjalan sendiri menuju kelas, tiba-tiba ada yang menegur ku dari belakang dan suara itu tak asing bagiku

“ehmmm” sapanya

“eh Zahra, Sehat dek ?? jawabku bersahabat

“Alhamdulillah sehat kak, kakak gimana ? Tanyanya

“Alhamdulillah, seperti yang zahra lihat, dari mana ?? tanyaku

“Dari mesjid”Jawabnya

“Dhuha ?? tanyaku penasaran

“he’em, tidak ada pagi yang indah tanpa dhuha kak”Jawabnya sambil tersenyum
Aku merangkulnya.....

Tak terasa kami semakin akrab dari hari kehari, aku juga mulai mengajaknya untuk ikut dalam kegiatan rutinku setiap minggu yaitu halaqoh dan Alhamdulillah dia sangat senang. Bahkan zahra lebih semangat ketimbang aku, setiap hari ia selalu mengingatkan ku untuk datang halaqoh, bahkan dia mulai mengajak teman-teman yang lainnya untuk ikut halaqoh, jadilah lingkaran kecil itu sekarang menjadi besar karena banyak yang hadir setiap minggunya, “Alhamdulillah”. Pulang halaqoh kami biasanya tidak langsung pulang, kami mampir dulu ke toko buku, sekedar baca buku atau hunting buku-buku terbaru.

Aku melihatnya duduk diantara rak-rak yang berisi tumpukan buku dan pemandangan yang akhir-akhir ini sering ku lihat. Yaa pemandangan botol obat putih di tambah botol minuman berwarna hijau cerah.

“Zah, itu vitamin untuk penambah nafsu makan juga yah ?? Tanyaku
“Lebih dari itu kak” jawabnya sambil mulai memasukkan butiran-butiran pil kedalam mulutnya
“Maksudnya ?? tanyaku mulai penasaran
Dia hanya menjawabnya dengan senyuman. “Ada yang disembunyikan olehnya” bisikku dalam hati

***

“Zah, aku salut dengan sikapmu ketika kamu mendengar adzan dek, bahkan kakak iri dengan hal tersebut” Ucapku padanya di suatu siang di sudut perpustakaan kampus

“Itu bukti rasa syukurku padanya kak, bahwa Dia masih beri aku kesempatan untuk mendengarkan suara indah itu dan apa yang bisa kuperbuat selain menghadap kepadanya dengan seabrek keluh kesahku padanya” Jawabnya begitu datar

“Ya, tapi tak banyak orang yang mampu sepertimu dek, bahkan aku sendiri tidak mampu bersikap seperti itu”

“Ada beberapa faktor yang membuat orang selalu ingin berbuat pada hari itu juga, mungkin dia takut tidak bisa melakukan hal itu lagi beberapa jam kedepan”

Aku melihat ketulusan di balik bening matanya yang indah........

“Ahh Zah, kau penuh dengan misteri.......”Desahku dalam hati

***

Ga terasa ukhuwah yang terjalin antara aku dan zahra sampai selama ini sampai akhirnya aku lulus dan keluar dari kampus tersebut tapi aku berharap ukhuwah ku dengan zahra takkan pernah putus, banyak hal yang kudapat dari ukhuwah ini

“Barakallahu kakak atas wisudanya”
1 Pesan yang masuk ke handphone ku dan ternyata itu dari zahra,

“syukron dek, Insya Allah malam Ahad ada tasyakuran dirumah kakak dek, kakak sangat mengharapkan kehadiranmu”balasku

Tak perlu menunggu waktu yang lama untuk menunggu balasan dari zahra

“Insya Allah zahra akan datang kak”Tulisnya

***

Zahra menempati janjinya, dia datang dengan gamis pink nya, cantik sekali....
Aku mengajaknya untuk menginap satu malam dirumahku karena malam telah larut dan tidak baik untuk dia pulang kerumahnya, akhirnya zahra setuju untuk menginap satu malam dirumahku dan tidur bersamaku

“Tidaklah dikatakan kita bersahabat dekat, jika belum tidur bersamanya”

Semalaman suntuk kami mengobrol ngalur-ngidul, dari mulai masalah kuliah, halaqoh, buku sampai tentang kehidupan pribadi kami.

“Kau tau kak kenapa aku selalu tepat waktu dalam shalat ?? Dan kau tau kak kenapa aku tidak mau meninggalkan waktu shalat walau hanya sedetik ??”Tanyanya padaku

“Ada apa denganmu Zah ?? Jawabku

“Ini jawabannya kak” zahra mengarahkan tangannya tepat di jantungnya “Ini adalah jawaban dari semua pertanyaan kakak kepadaku, mengenai banyaknya pil-pil yang kukatakan vitamin, mengenai hal-hal yang kau suka dari ku, inilah jawabannya”
Kulihat mata zahra mulai berkaca-kaca, aku memeluknya “Katakan ada apa denganmu dek, kakak tidak mengerti” jawabku

“Aku takut jika aku tidak segera shalat ketika adzan berkumandang, Allah ga kasih aku waktu lagi untuk melaksanakannya, aku takut jantung ini berhenti sedang aku tidak dalam keadaan suci dan aku belum menyambangi rumahNya, aku takut Allah marah padaku atas apa yang kulakukan ketika aku mendengar panggilan dahsyat itu berkumandang dengan merdunya, Aku takut tidak ada waktu lagi buat ku” zahra terisak sambil bersandar di bahuku

“Zah, kamu yang sabar yah”Aku memeluknya dalam dekapanku

“Dan pil-pil ini kak, ini lebih dari sekedar vitamin biasa, ini salah satu cara untuk aku tetap bertahan sampai detik ini, untuk aku bisa menjumpai fajar setiap harinya, untuk aku bertemu waktu dhuha, waktu tahajjud dan waktu-waktu indah lainnya, inilah yang selama ini menemaniku kak, kemanapun aku, dia selalu ada dalam saku tas ku”

“Sejak kapan kamu sakit Zah ??” tanyaku

“Sudah sejak lama kak, seandainya kakak bisa lihat isi jantung ini, mungkin yang kakak lihat bukan segempal daging yang berbentuk lagi, tapi penuh dengan besi-besi seperti per memenuhi setiap ruangnya, Per-per itu lah yang bertugas membantu memompa jantung agar bisa berfungsi setiap harinya, setiap 3 bulan sekali aku harus check up ke dokter dan menggantinya dengan yang baru tanpa mengeluarkan yang lama tersebut, dan kau tau rasanya kak ? sungguh sangat-sangat sakit kak, ketika per-per itu masuk kedalam jantungku rasanya seperti jantungku di robek dengan besi-besi yang runcing dan tajam, Allah sangat sayang padaku kak”Ucapnya lirih

***

Kebersamaan malam itu ternyata adalah kebersamaan terakhir antara aku dan zahra, sudah seminggu ini zahra tidak ada kabarnya, ku coba menjumpai dikampus tapi hasilnya nihil, dan hari ini tepatnya seminggu setelah zahra berada di rumahku dan tidur bersamaku, salah satu temannya memberi kabar bahwa zahra di temukan meninggal dirumahnya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Kutancap gas kereta ku, mataku menerawang jauh di selingi dengan derasnya air mataku. Sesampainya dirumah zahra sudah kulihat banyak orang memenuhi kediamannya dengan balutan duka dan air mata “Sang Mujahidah Telah Tiada”.

Ku dapat info dari tetangganya bahwa zahra ditemukan meninggal di kamarnya dengan mukena lengkap dengan kaos kaki membalut badannya –MasyaAllah Zah- “dihari terakhirmu pun engkau tetap menjaga dirimu dan menutupnya dengan shalat mu, ya shalat isya malam itu adalah shalat terakhirmu......

“Zahra, syurga telah menunggu mu, selamat jalan Zah” desah ku lirih tak tertahankan

***

Banyak hal yang bisa kita petik dari sosok zahra, dia sosok yang sangat anggun, dengan sikapnya ia mampu bersahabat dengan siapapun, dengan sapaan lembutnya ia mampu mengajak teman-teman nya untuk ikut halaqoh, semangat juang dalam islamnya membuat ia sangat terlihat tangguh, keikhlasannya menerima semua yang ditakdirkan untuknya membuat ia semakin bersinar bahkan di hari terakhirnya di dunia dan  caramu dalam memaknai setiap detik waktu adalah hal yang harus aku miliki.

-Selamat jalan mujahidah shalihah ku-

Senin, 14 Januari 2013

Dakwah Adalah Cinta

 

 Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Dan dakwah adalah tanda cinta, saat seseorang inginkan yang terbaik bagimu, walau itu berarti sedikit ‘menyakitimu’. Aku ingat waktu kelas 3 SMA, seorang teman meminta untuk bicara 4 mata denganku. Dia bilang, “Ning, afwan ya.. ada yg minta gw sampein ini ke lo. Cuma mau ngingetin aja, kemaren liat lo boncengan motor sama cowok. Yah sebaiknya jangan boncengan sama cowok lah” *kurang lebih gitu dah intinya* Mungkin awalnya kerasa gak enak diingatkan seperti itu. Mungkin juga akan berpikir, “loh, ini kan hidup gw, ngapain lo sewot?” dan sebagainya. Namun, Allah dan Rasulnya tidak pernah mengajari kita untuk tidak saling peduli. Bahkan kita diperintahkan untuk amr ma’ruf nahyi munkar.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Ali Imran: 104)
Jadi, saat ada seseorang mengajakmu shalat berjamaah di awal waktu, mengajakmu ikut kajian, mengajakmu belajar Qur’an, bertanya kapan kau akan memakai jilbab, memberitahumu untuk tidak ghibah, khawatir saat kau pacaran, bersedih saat kau keluarkan makian… itu artinya.. dia sayang padamu. Karena inginkan keselamatan bagimu, tidak hanya di dunia, namun di akhirat juga. Apalagi kalau bukan cinta, yang membuat seseorang mau memikirkan orang lain, bersusah payah mengajak orang lain, menginginkan keselamatan bagi orang lain, menyelipkan namanya dalam bait-bait doa?


Sabtu, 05 Januari 2013

Ghibah (membicarakan Aib Orang Lain)



Rasulullah Shallahualaihi Wassalam pulang, beliau mendengar dua orang laki-laki dibelakangnya sedang berbincang-bincang  "Lihatlah orang itu, dia mati seperti seekor anjing"
Nabi tidak menanggapi. Lalu beliau melewati tanah kosong yang di atasnya tergeletak bangkai keledai, maka Nabi bersabda "makanlah kalian berdua". Keduanya menjawab "Nauzhubillah"
Nabi bersabda "Kalian berdua telah makan daging saudara kalian"

Salah seorang sahabat berkata tentang ghibah, maka Nabi bersabda kepadanya "cuci mulutmu"
Lalu dia berkata "aku tidak makan daging"
Nabi Bersabda "Tidak, kamu telah memakannya"
Laki-laki itu berkata "aku tidak makan daging"
Nabi Bersabda lagi "kamu telah makan, kamu telah makan daging saudaramu. Cuci Mulutmu !!!

Dua orang wanita sedang berpuasa. Keduanya tersedak keras, keduanya pun bertanya kepada Nabi "Apa yang kami lakukan ?" Nabi menjawab " Muntahkanlah !!" Keduanya berkata "Tetapi kami tidak makan daging" Nabi bersabda "muntahkanlah"
Manakala keduanya muntah, keluarlah daging berlumur darah. Keduanya terheran-heran. Nabi bersabda "itu adalah daging saudara kalian berdua yang kalian bicarakan keburukannya"

Rasulullah saw. bersabda: apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan ghibah? Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui" beliau bersabda: "Engkau menyebutkan sesuatu kejelekan yang ada pada saudaramu" para sahabat berkata:" wahai rasulullah bagaimana jika apa yang dibicarakan tersebut ada padanya? maka rasulullah saw. bersabda: "Apabila apa yang ada padanya sesuai dengan apa yang engkau bicarakan maka engkau telah menggibahnya. Sedangkan apabila apa yang ada padanya tidak sesuai dengan apa yang engkau katakan maka engkau telah berdusta atasnya.” (H.R. Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

 
Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Pengasih.”
Inilah beberapa kisah yang menunjukkan besarnya (dosa) Ghibah, semoga bisa menjadi pemicu kita untuk menjauhinya. Semoga Allah menjauhkan kita dari ghibah dan sebab-sebabnya.

Diambil dari Buku Ensiklopedia Kisah Generasi salaf halaman 351-352 dengan sedikit penambahan

Khayrunnisa' Ash-shalihah 06 Januari 2013

Jumat, 04 Januari 2013

Salim Dan Khalifah

Semasa menjadi khalifah, Hisyam bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji, Ketika berada di ka'bah dia berjumpa dengan Salim Bin Abdullah Umar.

Hisyam berkata kepada salim " Mintalah sesuatu kepadaku"
Salim menjawab "Aku malu kepada Allah, meminta kepada selainNya di rumahNya"

Ketika salim keluar Ka'bah, Hisyam membuntutinya dan berkata kepadanya " Sekarang kamu telah keluar dari Baitullah. Mintalah sesuatu"

Salim berkata "Hajat dunia atau hajat Akhirat ??"
Hisyam menjawab "Hajat Dunia"

Salim Berkata "Aku tidak meminta dunia kepada Pemiliknya. Bagaimana aku bisa memintanya kepada yang tidak memilikinya ???

-Mengagumkan -!!!!

Rabu, 07 Maret 2012

Belajar Dari Semangat Teh Alifah Salsabila

" Alifah Salsabila "  Begitulah nama akun facebooknya, Dulu waktu kenal dengan beliau nick name fb nya adalah "Cirebon City" yang orang banyak memanggilnya dengan "Teh CC" Tapi Setelah aku rekomendasikan nama "Humairah Salsabila" teh ifah ganti nama lalu di ganti lagi, dipadukan dengan nama aslinya, jadilah "Alifah Salsabila"


Teh Ifah, begitulah aku biasa memanggilnya,


Awal perkenalan ku dengan teh ifah, ahh aku lupa, yang jelas waktu itu kita tergabung dalam 1 grup yang namanya "Psikologi Islam" kalo ga salah ingat ya (soalnya udah lama, dan sekarang aku juga ga tau itu grup masih ada atau tidak)


Orang yang Ramah, Supel, doyan ketawa dan komentnnya itu sangat sangat  bersahabat, terlihat dari setiap tulisan yang keluar dari jari lentik nya,


Dulu waktu pertama kali kenal dengan beliau, bener bener aku ga suka sama beliau, tau ga kenapa ?? iyaa karena dia itu "Sok eksis" beuhh !! tau deh aku paling BeTe lihat orang orang kayak gitu, tapiii memang benar kata pepatah lama "Tak kenal Maka Tak Sayang, Tak Sayang Maka Tak Cinta" dan setelah kita menjalin ukhuwah ini, benar benar terasa cinta itu mengalir di seluruh tubuh ini, ahh teh, engkau benar benar terindah di hati ini


Semangat nya itu loh yang buat aku susah untuk melupakan dia, kita dulu pernah kerjasama di salah satu page di facebook, dia yang buat page itu dengan nama " Menjalin Persaudaraan Dan Silahturahmi ", Beliau ngajak aku gabung menjadi admin, dan tentu saja dengan senang hati aku menerimanya,


Selalu teringat di ingatan ini bagaimana beliau promosiin Page MPS, semua page dia samperin hanya untuk ngajak mereka gabung di MPS dan jadilah page MPS ada yang ngelike, Kami admin ada 5 orang, 2 ikhwan dan 3 akhwat, karena masih semangat semangat nya posting, kami pun hampir setiap detik update status dengan orang yang berbeda, page pun menjadi kacau, dan lagi lagi teh ifah itu benar benar membuat aku kagum, teh ifah walau dia yang buat MPS, tapi beliau tetap mendiskusikan apa apa aja yang mau ia buat di page, dia selalu mendiskusikan apapun untuk perkembangan page, dia ga mau main sendiri, mau ngangkat admin aja, dia selalu kasih saran ke kami berempat, hmmmm Teh Ifaah, benar benar akhwat yang demokratis, jiwa persahabatan sangat besar


Setiap tidak ada kabar dari ku, nomor teh ifah langsung memenuhi inboksku "Teteh kangennnnnnnnn" ahh teh ifah kamu benar benar akhwat ituuu teh :')


Kehilangan pun akhirnya menemani kami di MPS


Teh ifah udah tidak kerja lagi diwarnet karena sesuatu masalah, kami hanya komunikasi via sms, tak pernah luput beliau selalu tanya "gimana MPS teh ?? bertambah ga membernya ?? kangen juga sama MPS, udah lama ga ngepost disana" hmmm sms mu itu loh teh benar benar wahh, apalagi setiap ngesms aku, teh ifah tak pernah lupa tanya "gimana kabar teteh dan sekeluarga ??" sehat tah ?


" Setiap yang berjiwa pasti mengalami kematian " ya kita semua yang ada di dunia akan mengalaminya, tidak ada satu orang pun yang luput dari kematian, dimanapun kita berada kematian akan datang kepada kita karena kematian itu PASTI


Kematian membawa kesedihan yang mendalam, mungkin begitulah yang di rasakan teh ifah, kehilangan seseorang yang sangat sangat berharga dalam hidup nya, "MAMA" iaa mama yang selalu teh ifah sebut dengan panggilan "Mimi", Mimi pergi selama lamanya dalam hidup teteh ifah, dengan meninggalkan adik adik yang harus di jaga teh ifah sekarang ,


ah ntah lah, aku sesaat menangis memikirkan teh ifah, bagaimana mungkin teh ifah bisa ?? teh ifah itu seumuran sama ku, 18 taun, angka usia yang masih sangat sangat muda, "Teh, mampukah teteh menjalani ini semua ??"


Aku teringat dengan smsmu yang lalu ketika aku tanya "Teteh lagi apa ?" engkau jawab dengan nada seperti biasa "biasa teh, lagi ngeloni si bontot, sekarang kan udah jadi emak emak teh,heheh" hmm teh, tak terasa air mata ini mengalir ketika membaca smsmu, mungkin terlihat seperti guyon, tapi ntah kenapa hati ini teriris teh, aku ingin mendekapmu seketika itu, ingin berada disampingmu,


Dan sekarang, engkau sudah tidak berada di Cirebon lagi kan teh ?? sekarang teh ifah udah di tangerang, Kerja disanaa, kerja yang menghandalkan tenaga, tapi aku masih melihat senyum indah itu walau hanya lewat kata kata setiap kali sms dengan mu,


dan aku akan selalu mengingat sms terakhirmu itu teh  ketika aku mengeluh dengan kerjaanku, ketika aku mengeluh aku capek dengan semua ini, dan lagi dengan nada guyon dan gaya bicara seperti orang betawi apa sunda yah teh ??


"Wis toh teh ojo nesu-nesu ae, ndak ada yang ndak capek teh, orang yang cuma makan tidur makan tidur juga capek teh tapi saat kita menjalaninya dengan ikhlas semua yang kita jalani ringan dan mudah :)"

Ya, begitulah teh ifah, akhwat yang kukenal, akhwat yang benar benar memiliki semangat yang tinggi,

Teh, Bisakah nisa memiliki semangat seperti yang teteh punya ??

Bisakah nisa menghadapi hidup ini sama seperti teteh menghadapi ini semua ?

Teh, Selalu ada Doa untukmu teh :')

Rabu, 18 Mei 2011

Pengakuan seorang istri

Sore itu, aku menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kemudian ada seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu,“anti sudah menikah?”


“Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu bertanya lagi,“kenapa?”


Pertanyaan itu hanya bisa kujawab dengan senyuman..ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.


“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “Nunggu suami”, jawabnya.


Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karier. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya padanya,“mbak kerja dimana?”


Entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.


“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi”, jawabnya dengan wajah yang...aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.


“Kenapa?”, tanyaku lagi.


Dia hanya tersenyum dan menjawab,“karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami”, jawabnya tegas.


Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran.. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.


"Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat."



"Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta perbulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.


Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari itu saya lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,“abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah.”


Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya lihat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalau bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah dicuci. Astaghfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam?


Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya.


Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”


Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg diusapnya.


“anti tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 ribu perbulan. 10 kali lebih kecil dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya. Dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Diambil ya, buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.


Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya.


“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.



“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”


Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.


“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalau suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalau mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap. Dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantu pun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu.” ceritanya kembali, menuturkan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.



“Anti tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia.

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan...

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.


Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anti mendapatkan suami seperti saya, anti tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya...dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram.” Ucapnya terakhir sambil tersenyum manis padaku. Ia kemudian mengambil tas laptonya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya.

Sambil mengucapkan salam, akhwat tesebut meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah…

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku...


Subhanallah..


Semoga pekerjaan dan harta tak pernah menghalangi untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.



NB : copas from : http://www.facebook.com/notes/fatimah-az-zahra/suami-itu-sebuah-kisah-nyata/10150098549016540

SalamCintaLuarBiasa